Jumat, 29 Maret 2013

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

Manusia umumnya sangat membutuhkan pendidikan. Pertama kali lahir di dunia ini, manusia seperti kertas putih yang butuh banyak tinta untuk menuliskan sesuatu di kertas putih tersebut. Manusia pada saat balita bukannya tidak mendapatkan pendidikan, bayi yang berusia 1 tahun kebawah sudah mendapatkan pendidikan secara non formal, yaitu dengan diajarkannya oleh orang tua masing – masing dan rasa ingin tahu individu tersebut dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Diusia balita manusia mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya dengan caranya tersendiri, dengan melihat, meraba, dan merasakannya, bayi akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ia butuhkan. Karena rasa ingin tahu inilah manusia menjadi sangat butuh pendidikan.


Diusia sekolah, banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang akan muncul dari setiap individu. Karena setiap individu yang menjalani proses pendidikan formal akan lebih banyak butuh jawaban dari kehidupan sehari – harinya maupun dari pelajaran yang diterimanya. Dan setiap individu yang menjalani proses pendidikan, tidak akan sulit mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya itu. Sehingga setiap individu yang menjalani proses pendidikan secara formal, pemikirannya tidak akan berhenti sampai disatu titik saja, tetapi dengan rasa ingin tahunya yang butuh jawaban yang cepat maka manusia akan banyak menggali ilmunya sendiri dengan atau tanpa pendidikan.


Pendidikan yang ditempuh setiap individu menambah banyak pengetahuan bagi yang menjalani proses pendidikan tersebut. Ini dikarenakan ilmu yang mereka dapat menjadikan pengetahuan bagi individu itu sendiri. Diusia sekolah dasar setiap individu yang menjalani pendidikan formal sudah diajarkan meneliti dan memproses sesuatu yang ada dilingkungan sekitar. Dari sinilah setiap individu yang kreatif akan mencari jawaban sendiri dari penelitiannya tersebut. Tidak dapat dipungkiri kertas putih yang bersih tadi akan kotor oleh coretan – coretan tinta pengetahuan dan pengalaman hidup dari setiap individu yang menjalani kehidupan.


Sebenarnya ilmu dan pengetahuan bisa kita lewati tanpa pendidikan, tetapi ilmu dan pengetahuan ini tidak akan berkembang melainkan hanya berdiri ditempat. Ini dibuktikan dari nenek moyang kita yang dulunya tidak memproleh pendidikan formal, tetapi bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan dan masih bisa menjalankan kehidupan dengan baik, karena ilmu dan pengetahuan yang didapat dari lingkungan sekitar. Kehidupan sehari – hari yang dijalani setiap individu pun akan menambah ilmu dan pengetahuan. Tetapi akan lebih baiknya setiap individu melewati proses pendidikan dengan baik, karena akan mendapatkan jawaban – jawaban dari rasa ingin tahu yang muncul dengan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan. Dan setiap individu yang melewati proses pendidikan formal akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dengan pasti tanpa menerka – nerka. Maka dari itu proses pendidikan sangat penting bagi pertumbuhan manusia karena setiap manusia mempunyai rasa ingin tahu yang ingin dipuaskan oleh jawaban – jawaban yang pasti, sehingga setiap manusia akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dengan baik dari proses pendidikan formal.

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI MANUSIA

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi membentuk masyarakat dunia yang saling ketergantungan. Tatanan dunia mulai mengalami perubahan secara stuktural menuju era globalisasi dalam berbagai berbagaibidang kehidupan . Tatanan dunia saat ini ditandai oleh persaingan antar bangsa ,stabilitas kehidupan suatu bangsa dan hubungan antar bangsa akan memainkan peranan penting. Bagi bangsa Indonesia,abab 21 adalah agrarabab perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan informasi dengan pola- pola kehidupan yang berbeda. Tilaar (1998 :4) mengendentifikasikan berbagai kekuatang global;
Kekuatan global pada umumnya bemuara pada empat kekuatan yakni (1) kemajuan iptek terutama dalam bidang informasi serta inovasi-inovasi baru didalam tehnologi yang mempermudah kehipan manusia, (2) perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan Iptek (3) kerjasama regional dan Internasional yang telah menyatukan kehidupan bangsa-bangsa tanpa mengenalbatas negara dan (4) meningkatkan kesadaran hak azasi manusia serta kewajiban manusia dalam kehidupan bersama dalam demokrasi.

Sumber daya manusia yang siap dalam menghadapi era globalisasi tersebutharus memiliki pendidikan yang tinggi dengan indikator sederhana adalah lulusan perguruan tinggi. Sementara saat ini masih terdapat sumber daya manusia yang lemah dengan pendidikan yang rendah, ekonomi yang kurang dan bahkan ahklak yang kurang baik. Tujuan pendidikan sekolah menengah dalam undang- undang sestem pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 pasal 15 adalah,
Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.
Pada hakikatnya pendidikan adalah “usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal”. Selanjutnya Bratanusa yang diterjemahkan oleh Abu Ahmadi (1991:69) menjelaskan pengertian pendidikan adalah “usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan”. Kemudian Rousseau yang diterjemahkan oleh Abu Ahmadi (1991:69) mengemukakan pendidikan adalah “ memberi kita pembekalan yang tidak ada pada anak-anak, akan tetapi bias membutuhkan pada waktu dewasa”.
Dengan demikian berarti pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu perlua adanya landasan yang kuat tentang pendidikan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuklebih jelas mengenai aspek-aspek tersebut dapat dilihat uaraian berikut.




BAB II LANDASA TEORI

A. Pendidikan dan Landasan
Landasan filosofis adalah membicarakan atau mengkaji dasar pendidikan yang” merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar, sistematis dan kontiniu untuk mengembangkan potensi peserta didik baik kognetif, affektif maupun psikomotoris” . Ketiga domain ini tidak terlepas tentang adanya sesuatu (Ontologi), menganai adanya Tuhan (Theologi), adanya alam (Cosmologi) dan mengenai adanya manusia (Antropologi) dikenal dengan filsafat spekulatif , dan perlu adanya cara untuk mengetahui yang ada melalui berbagai teori , baik teori pengetahuan (Epistimologi) disebut dengan filsafat analitis, teori kebenaran maupun teori ketepatan atau logika dan setelah mengetahui yang ada, perlu adanya penilai yang terhadap yang ada (Axiologi) baik dengan relegi, etika maupun estetika, dikenal dengan filsafat preskriptif.
Landasan Psikologis pendidikan mengkaji hakikat dan mekanisme perkembangan manusia dan kepribadiannya, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut serta implikasinya pada proses pendidikan
Landasan Sosiologis mengkaji mekanisme interaksi sosial dalam lingkungan pendidikan dan pranata pendidikan dengan pranata-pranata di luar lembaga pendidikan. Seperti agama, idiologi, keyakinan hidup, politik sosial ekonomi dan kebudayaan) berserta pengaruh terhadap implikasi pendidikan.
Landasan Atropologi mengkaji pengaruh kebudayaan terhadap pendidikan, mekanisme operasi dari kebudayaan dalam kerangka pendidikan sebagai proses pengembangan potensi insani dan implikasi dari ledakan teknologi, nilai-nilai lokal kemasyarakatan bahwa dalam lingkungan persekolahan maupun di luar sekolah (lembaga dan masyarakat)
Landasan yang paling dominan dalam mewarnai penyelenggaraan pendidikan adalah landasan filosofis, karena pandangan ini menekankan pada tanggung jawab. Seseorang manusia terhadap kehidupan dan pendidikan sendiri, filosofis pendidikan antara lain bertitik tolak dari hakikat manusia dan hakikat anak. Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan berbeda dengan hakikat orang dewasa. Anak mempunyai nilai-nilai seperti orang dewasa, walupun ia bukan orang dewasa.
Dengan alasan bahwa pandangan filosofis ini melahirkan suatu ilmu pendidikan yang melekat hakikat anak sebagai titik tolak proses pendidikan. Pandangan filosofis yang mengakui nilai-nilai anak yang khas juga mengakui akan perkembangan etik serta relegi anak yang khas yang harus dihormati dalam proses pendidikan, yang dilakukan oleh manusia untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu manusia merupan kunci atau motor penggerak pendidikan. untuk lebih jelas dapat dilihat uraian berikut.
B. Hakikat Manusia
Pada hakikatnya manusia adalah sebagai makhluk pribadi adan segaligus sebagai makhluk sosial, yang memiliki norma-norma pergaulan yang bersumber pada agama, hukum maupun adat kebiasaan.
Manusia pada hakikatnya adalah homo faber (makhluk kreatif), sebagai homo sapien (makhluk berbudi) dan juga sebagai makhluk relegi (makhluk bertuhan). Manusia itu pada hakikat tumbuh dan berkembang baik fisik maupun mental spiritual.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dibandingkan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal sehingga manusia dapat menciptakan perubahan menuju kepada kemajuan. Oleh karena itu manusia merupakan khalifat di bumi yang mampu mempengaruhi makhluk lain, maka benar pernyataan di atas bahwa manusia merupakan kata kunci dalam penyelenggaraan pendidikan.

C. Lingkungan Pendidikan
Pendidikan dalam keluarga terjadi proses transpomasi nilai-nilai dalam rangka membudayakan manusia muda menjadi manusia berbudaya . Proses pembudayaan anak dalam keluarga ini bersumber dari konsekwensi perkawinan antara pria dan wanita. Konsekwensi perkawinan tersebut dikuatkan dengan disahkan perkawinan tersebut secara adat-istiadat agama dan secara hukum pengesahan perkawinan membawa konsekwensi adanya tanggung jawab terhadap pengembangan pertumbuhan anak menjadi pribadi yang diharapkan baik keluarga, masyarakat maupun negara.
Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu : sebagai prestasi masyarakat dan sebagai penghasil tenaga. Sebagai produser kebutuhan pendidikan masyarakat, sekolah dan masyarakat memiliki ikatan hubungan yang rasional keduanya. 1)adanya kesesuaian antara fungsi pendidikan yang diberikan oleh sekolah dengan apa yang dibutuhkan masyarakat, 2) ketepatan sasaran atas target pendidikan yang dimainkan oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan 3) keberhasilan penelitian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat akan dipengaruhi oleh ikatan objektif diantara keduanya.
Pengembangan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern berjalan secara sistemik, dimana lembaga-lembaga pendidikan yang ada secara terpadu menjadi pelaksana proses pendidikan untuk mencapai tujuan masyarakat yang dicita-citakan.
D. Pentingnya Pendidikan
Dalam konteks dengan lahirnya UU Otonomi Daerah dan UU Keistimewaan dilajutkan dengan Perda No. 6 tahun 2000 tentang penyelenggaraan pendidikan, maka aliran konvergensi perlu divisualisasikan secara tepat dan benar yang dilandasi pada nilai-nilai adat budaya masyarakat . Karenanya pengembangan SDM sebaiknya disesuaikan pada bakat, minat kebutuhan anak yang bersangkutan, kemudian faktor saftwware, hardware menjadi perioritas yang harus diperhatikan oleh para pengambil kebijakan di daerah Istimewa . Salah satu strategi mengaktualisasikan aliran dan filisofi tersebut dengan dilaksanakan Community Base Manjement and school base manajement.
Dalam kehidupan masyarakat bahwa kelahiran seorang anak diawali pendengaran utama dan pertama yaitu bagi bagi anak laki-laki azan dan anak perempuan iqamah. Ini membuktikan upaya sadar orang tua mengharapkan anaknya mempunyai basis filosofis Islam. Karena itu tahap selanjutnya adalah orang tua mengharapkan anaknya dari kata-demi kata dan tindakan demi tindakan yang mengarah kepada pembentukan sikap dan tingkah laku yang baik. Dalam hal budaya peran orang tua sangat besar bila dilihat dari penjelasan tersebut di atas. Dan selanjutnya orang tua dengan sadar mengantar anaknya ke pendidikan formal di sekolah.
Untuk membangun pendidikan yang lebih baik di masa depan, tentu saja kita harus berkaca kepada masa lalu dan masa kini, sebab masa depan juga berada pada masa lalu dan masa kini :
Pembangunan nasional dibidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujutkan masyarakat yang maju, adil dan makmur, serta memungkinkan pada warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Secara sederhana masalah pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam empat hal yaitu : 1) masalah pemerataan; 2) masalah mutu; 3) masalah efektivitas; dan relevansi; 4) masalah efisiensi
Berkenaan dengan masalah pemerataan pendidikan Suparna (1987) menegaskan bahwa “ pertumbuhan penduduk yang cepat menimbulkan akibat yang luas terhadap segala segi kehidupan termasuk dalam segi pendidikan”. Meledaknya jumlah anak usia sekolah dapat mengakibatkan berkurangnya kesempatan belajar jika tidak diiringi dengan pertambahan daya tampung, yang berarti harus menambah jumlah sekolah dan ruang kelas baru. Hal ini yang menjadi masalah dalam pemerataan kesempatan belajar adalah terjadinya krisis keamanan sehingga menyebabkan banyak masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke daerah yang relatif lebih aman, yang mengakibatkan melimpahnya daya tampung diperkotaan dan kekurangan murid di daerah konplik.
Dalam masalah mutu, Suparna (1987) menegaskan bahwa “ perlu meningkatkan fasilitas yang diperlukan untuk mempetinggi mutu sistem pendidikan yang dilakukan, mengutamakan pendidikan keterampilan yang telah ada yang paling sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja”
Kenyataan menunjukkan bahwa lulusan pendidikan di Indonesia (lebih-lebih di ) belum mampu memenuhi ketentuan tenaga kerja, masih banyak lulusan pendidikan yang tidak mendapat kesempatan kerja dengan alasan kurang terampil dan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Menghadapi masalah tersebut. Mendikbud, ketika dijabat oleh Wardiman Joyo Negoro, memprakarsai program “ Link and match, prinsip ini telah mereduksi pendidikan nasional sebagai tempat pendidikan tenaga kerja” (Tilaar : 2000) Permasalahan yang dihadapi tentang efektivitas dan relevansi belum efektifnya penyelenggaraan pendidikan karena tanggung jawab pendidikan masih berada pada banyak tangan.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang tidak terkoordinasi sangat tidak efektif. Dalam hal ini Nanang Fattah (2000) menegaskan bahwa ” Hubungan koordinatif merupakan pola hubungan yang menunjukkan hubungan antara unit dalam organisasi bertujuan mensingkronkan, saling mendukung, supaya searah dan tidak tumpang tindih”.
Jadi agar tujuan pendidikan dapat tercapai sebagai mana dihendaki, maka lembaga-lembaga yang berwenang membina pendidikan karena mempunyai jaringan koordinatif agar penyelenggaraannya efektif. Menyangkut dengan relevansi, telah menjadi masalah yang berkaitan dengan kebutuhan lapangan kerja. Lulusan pendidikan yang diperlukan oleh pasar tenaga kerja adalah yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan daerah.
Masalah pendidikan yang dihadapi sangat komplek. Adanya proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi sangat diperlukan mengingat akan kebutuhan dana pendidikan. Hal ini penting karena sistem sekolah dengan segala kekuranganya ternyata memerlukan biaya amat besar. Untuk membayar pada guru saja, meliputi 80 %, dan yang lain seperti gedung, buku, alat pelajaran dan fasilitas lain dibebankan kepada orang tua (Suparna 1987).
Pendidikan membutuhkan bantuan dari semua sektor kehidupan, namun akhirnya bantuan itu akan kembali. Pendidikan mengundang warga negara terbaik tidak hanya untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan pendidikan yang berlangsung melainkan juga dalam usaha meningkatkan mutu, efisiensi dan produktivitas. Meningkat keterlibatan masyarakat masih diperlukan. Ssehubungan dengan hal ini, P.H Combs menegaskan bahwa “masalah efesiensi masih menjadi perhatian agar pendidikan dapat berhasil maksimal dengan bantuan biaya yang sangat rendah”.
Dihubungkan dengan langkah penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas menghadapi tantangan global, yang menjadi fokus pemecahannya adalah : masalah relevansi dan mutu pendidikan artinya pendidikan itu harus sesuai dengan pembangunan nasional. Adanya keterkaitan yang tinggi antara bekal pendidikan yang diberikan kepada seseorang/ masyarakat sehingga mareka dapat mengabdi pada kepentingan nasional, regional maupun masyarakat. Perubahan dan perkembangan masyarakat yang cepat tersebut memerlukan penyesuaian pengetahuan, keterampilan sikap-sikap dari seseorang atau masyarakat yang menghadapi tantangan masalah dan hajat hidup baru.
Mengembangkan sikap yang cocok untuk tuntutan hidup dan kehidupan kini, dan akan datang. Keempat arah dasar tersebut, pendidikan dapat menghasilkan corak manusia Indonesia yang dapat diharapkan memiliki rasa civic concionsness, community, responsibiliti dan partisipasi terhadap pembangunan.
Pendidikan yang relevansi dengan pembangunan di Indonesia adalah pendidikan yang benar-benar mempersiapkan manusia pembangunan yang berpancasila. Hasil lulusan pendidikan dapat mengisi lapangan kerja dan dapat pula membuka lapangan kerja yang berguna bagi diri, masyarakat dan bangsa. Selain masalah relevansi, maka masalah mutu pendidikan harus juga diutamakan. Mutu pendidikan diartikan setiap lulusan lembaga pendidikan harus benar-benar mempunyai pengetahua, keterampilan, dan sikap yang dapat diandalkan dalam bidang pekerjaan. Mareka menjadi tenaga kerja yang profesional dalam bidang pembangunan. Di Indonesia, tenaga kerja profesional diperlukan dalam setiap aspek kehidupan manusia sehingga dapat mengolah sumber-sumber alam yang mendatangkan kesejahteraan masalah baik secara nasional maupun regional.
Langkah dalam memecahkan persoalan tentang pendidikan di pemerintah daerah harus menempuh langkah-langkah strategi dan kebijakan yang konvensional, misalnya dengan menambah jumlah sekolah, meningkatkan jumlah
Secara sistemik pendidikan merupakan sub sistem dari sistem pembangunan. Dalam konteks lebih kecil, ia dapat dilihat pula sebagi sebuah sistem yang yang terdiri dari sub sistem pendidikan persekolahan dan sub sistem pendidikan luar sekolah. Dalam konteks lebih kecil lagi sub sistem pendidikan persekolahan juga dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen sistemnya. Sub sistem pendidikan luar sekolah juga dapat ditelusuri sebagai suatu sistem yang di dalamnya juga ada sub-sub sistemnya. Begitu seterusnya yang oleh K.H Dewantara disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.
Merujuk pada pendapat Tilaar (2000) yang menyatakan bahwa pendidikan tidak terlepas dari politik, sungguhpun pendidikan tidak dapat menggantikan fungsi politik. Namun, tanpa pendidikan sungguh peran dan kualitas politik akan tidak sempurna. Dan pendidikan pula yang amat besar artinya bagi kehidupan ekonomi, hukum, kebudayaan, agama, dan lain sebagainya. Konon, dalam mukandimah UUD 1945 telah ditegaskan dengan gamblang bahwa salah satu tujuan membentuk negara RI adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam GBHN 1999 juga ditegaskan bahwa, pendidikan merupakan bagian dari sistem pembangunan nasional. Oleh karenanya, ia adalah sub sistem yang berkaitan erat dengan subsisten lainnya, seperti subsistem ekonomi, hukum, politik, agama, kebudayaan dan sebagainya. Sebagai konsekwensi logis dari hakikat kesisteman (sistemik) bahwa pendidikan sebagai salah satu sub sistem, senantiasa akan dipengaruhi dan mempengaruhi sub sistem lainnya dalam dinamika sistem pembangunan nasional.
Pada tingkat makro, sub sistem pendidikan bukan hanya dipengaruhi dan mempengaruhi berbagai sektor pembangunan nasional, tetapi juga oleh berbagai kondisi perkembangan duni secara global. Sedangkan pada tataran mikro, khususnya dalam lingkup sistem pendidikan, khususnya pendidikan sekolah kita dihadapkan pada persoalan kebijakan pusat dan daerah, demokrasi pendidikan, soal kualitas pendidikan muatan materi kurikulum, persoalan biaya yang masih terbatas, dan persoalan relevansi program, mutu, dan kebutuhan yang sesuai dengan harapan keluarga dan masyarakat.
Sekaolah, keluarga dan masyarakat adalah pranata pendidikan :
Pernyataan ini ada benarnya, bila kita melihat dari konsepsi tri pusat pendidikan yang dikemukakan oleh K. H Dewantara. Dikata benar karena hakikat pranata adalah suatu sistem norma yang khusus, dan memiliki kekuatan untuk mengatur dan mempengaruhi prilaku, baik individu kolompok maupun organisasi. Bila kita merujuk lagi pada Koentjaraningat (antropolok ternama) tentang hal ini, ia menyebutkan bahwa pranata itu adaslah pola-pola peri laku yang teratur dan terjadi dalam proses interaksi antar manusia baik yang terjadi dalam lembaga resmi ataupun tdak resmi. Lembaga resmi disebut intitusi yang biasanya lebih teratur melaksanakan pola-pola interaksi tadi.
Pranata dapat diklasifikasi sesuai peran, fungsi dan fokus sebagai implementasi akikat keberadaannya. Atas dasar ini, kita mengenai adanya pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan cinta kasih, kekerabatan, seks dan seterusnya yang kemudian melahirkan pranata perkawinan dan keluarga. Begitu pula halnya dengan pranata yang berfungsi untyuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kecerdasan, moral, keagamaan dan seterusnya, yang kemudian melahirkan sekolah-sekolah. Demikian pula dengan kebutuhan akan politik, kekuasaan, kedaulatan, kehidupan bersama dan seterusnya, yang kemudian melahirkan partai politik, pemerintahan, masyarakat, parlemen atau DPR dan negara.
Keseluruhan pranata ini sangat berpenagruh terhadap dunia pendidikan bagitu pula sebaliknya. Sekolah sebagai pranata pendidikan akan selalu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat, misalnya dalam hal kualitas lulusan yang ideal yang sesuai kebutuhan masyarakat. Bila hal ini tidak dapat dipenuhi, maka implikasinya terhadap pranata pendidikan pasti ada, dan begitu juga sebaliknya. Pranata ekonomi yang terfokus dalam fungsinya untuk mendatangkan kemakmuran kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan fisik lainnya, akan sangat berarti bagi masyarakat. Tetapi bila hal ini disanggupi, bila tidak maka implikasinya akan ada, tentunya yang sesuai dengan itu. begitu juga dengan berbagai pranata lainnya dalam bidang hukum agama, kesenian, politik, pertahanan keamanan kebudayaan adat dan seterusnya.

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI MASA DEPAN

A. ISLAM MENEKANKAN PENDIDIKAN

Sebagai agama, Islam memiliki ajaran yang lebih sempurna dan komprehensif. Sebagai agama yang sempurna, Islam dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja. Melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan.
Sumber utama untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al-Qur’an dan  Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al-Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan hadis, sebagai sumber ajaran Islam, diakui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan.
Di dalam al-Qur’an dengan sangat jelas Allah Swt berjanji akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan beriman: Yarfaillahulladzina amanu walladzina utul ilma darajat (QS. QS. Al-Mujadilah [58]: : 11). Ayat ini menunjukkan bahwa proses memperoleh ilmu atau pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi. Di samping itu, ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah Swt. Ayat di atas adalah sebagian kecil dari contoh betapa agama Islam sangat memandang ilmu sebagai alat yang penting dalam kehidupan. Banyak sekali kata-kata atau perintah-perintah di dalam al-Qur’an yang menunjukkan agar manusia ini berilmu, berpikir, merenung dan sebagainya.
Kalau ditelisik lebih jauh, sebenarnya aktivitas pendidikan telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan kalau ditarik mundur lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai berproses semenjak Allah swt. menciptakan manusia pertama Adam di surga dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh para malaikat belum dikenal sama sekali (QS Al Baqarah: 31-33).
Tidak hanya di dalam Al-Qur’an saja, hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. pun banyak berbicara tentang pentingnya ilmu. Nabi Muhammad Saw. telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education), sebagaimana hadis Uthlubul Ilma Minal Lahdi Ilal Mahdi (Carilah ilmu sejak dari ayunan hingga liang kubur). Nabi Muhammad Saw. mewajibkan bagi orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu (Thalabul Ilmi Faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin).
Nabi Muhammad Saw. Juga pernah bersabda: ”Carilah ilmu sampai ke negeri Cina” (Uthlubul ’Ilma walau bissin). Hadis ini merupakan indikasi nyata urgensi pendidikan. Ketika Rasulullah menganjurkan untuk belajar sampai ke negeri Cina tentu bukan harus belajar tafsir di sana, sebab bukan tempatnya. Begitu juga di Cina bukan tempat untuk belajar shalat ataupun menunaikan zakat. Cina pada zaman Nabi Muhammad SAW, 14 abad silam, adalah negara yang sudah maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan. Sehingga, Rasulullah menyuruh umatnya untuk belajar teknologi, perdagangan, dan industri sekalipun kepada orang yang berbeda keyakinan. Begitu istimewanya pendidikan dalam Islam sampai diperbolehkan oleh Rasulullah untuk iri kepada mereka.
Khasanah Islam lainnya dalam sejarah para sahabat pun mengisahkan tentang pentingnya ilmu. Ada suatu kisah dari Muadz bin Jabal Ra. Beliau berkata: “Andaikata orang yang berakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut. Namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”
Ada yang bertanya, Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ia menjawab, Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal salihnya.
Orang berakal tahu mana yang baik dan buruk. Bila ia melakukan kesalahan maka ia akan langsung sadar dan segera memperbaiki. Sedangkan orang bodoh, meskipun ia telah berbuat baik, namun bisa jadi ia akan melakukan kesalahan yang fatal karena kebodohannya.
Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah.
Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah Saw. menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.
Walhasil, diakui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka. Dan yang tak kalah penting adalah menjadikan manusia yang fana ini ’abadi’.
Orang yang memiliki ilmu, well-educated, well-versed dan bermanfaat ilmunya, ia akan dikenal meski ia telah mati. Ia akan abadi namanya, meski jasadnya sudah tiada. Pendidikanlah yang menjadikan ia abadi. Pendidikan mengabadikan yang fana. Itulah ajaran agama. Sejarah telah membuktikan hal itu.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
B. PENTINGNYA PENDIDIKAN
Sejak lahir, tanpa disadari, kita sudah menerima pendidikan dari orang tua tentang banyak hal. Orang tua merupakan guru pertama kali bagi kita untuk bertanya hal-hal kecil hingga yang besar. Seiring berjalannya waktu, definisi pendidikan pun meluas. Kita tidak hanya mengenal dalam lingkungan keluarga, namun mencapai lingkungan masyarakat. Bahkan, lingkungan negara. Pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pendidikan memegang unsur penting untuk membentuk pola pikir, akhlak, dan perilaku manusia agar sesuai dengan norma-norma yang ada, seperti norma agama, adat, budaya, dan lain-lain.
Menurut Frederick J.Mc Donald dan M.J. Langeveld, pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah kebiasaan (behavior) manusia. Menurut John Dewey, pendidikan merupakan salah satu proses pembaharuan makna pengalaman. Hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Bahkan, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok tempat dia hidup.
C. PENDIDIKAN, KEBODOHAN DAN KEMISKINAN
Pendidikan adalah kewajiban pertama seorang Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Pengetahuan Tuhan diasosiasikan dengan proses belajar dan mengajar, melalui firman-Nya Iqra bismirabbikalladzi Khalaq [QS. Al-`Alaq (96): 1-5]. Dari ayat tersebut, ada satu hal yang menarik yakni bahwa salah satu cara yang paling efektif dalam proses belajar dan pendidikan adalah membaca (iqra). Dengan banyak membaca, kita akan banyak pengetahuan.

PENTINGNYA PENDIDIKAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

Tentu saja pendidikan, kemampuan, wawasan dan pengetahuanlah yang kita butuhkan. Di dalam bangku pendidikan banyak sekali hal yang kita dapatkan.Tetapi entah mengapa banyak sekali warga di Indonesia ini yang tidak mengenyam bangku pendidikan sebagaimana mestinya, khususnya di daerah-daerah terpencil di sekitar wilayah Indonesia ini. Sepertinya kesadaran mereka tetang pentingnya pendidikan perlu ditingkatkan.
Sebagaimana yang diungkapkan Daoed Joesoef tentang pentingnya pendidikan : “Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia” Dan tentulah dari pernyataan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan.
 Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa suatu Pendidikan tentunya akan mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas baik dari segi spritual, intelegensi dan skill dan pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan.
Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidik harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka tentunya peningkatan mutu pendidikan juga berpengaruh terhadap perkembangan suatu bangsa. Kita ambil contoh Amerika, mereka takkan bisa jadi seperti sekarang ini apabila –maaf– pendidikan mereka setarap dengan kita. Lalu bagaimana dengan Jepang? si ahli Teknologi itu? Jepang sangat menghargai Pendidikan, mereka rela mengeluarkan dana yang sangat besar hanya untuk pendidikan bukan untuk kampanye atau hal lain tentang kedudukan seperti yang–maaf– Indonesia lakukan. Tak ubahnya negara lain, seperti Malaysia dan Singapura yang menjadi negara tetangga kita.

Pentingnya Pendidikan Bagi Kehidupan

Mungkin sedikit demi sedikit Indonesia juga sadar akan pentingnya pendidikan. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei menitikberatkan atau mengambil tema pendidikan karakter untuk membangun peradaban bangsa dan seperti yang diberitakan bahwa Kementrian Pendidikan Nasional telah menyediakan infrastruktur terkait akses informasi bekerja sama dengan MNC Group, melalui TV berbayarnya, Indovision menyiarkan siaran televisi untuk pendidikan.Dan juga penyediaan taman bacaan di pusat perbelanjaan. Namun apakah pendidikan karakter ini bisa mengubah masalah-masalah yang sering kita hadapi dalam dunia pendidikan?
Didalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan: “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara” Namun satu pertanyaan, sudahkah pendidikan kita seperti yang tercantum dalam UU tersebut?

Pentingnya Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu hal yang penting kita perhatikan, pentingnnya pendidikan sangat terlihat jelas. Melamar pekerjaan yang layak tentu membutuhkan ijazah sesuai dengan jabatan yang akan kita lamar. Jabatan yang tinggi tentunya membutuhkan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi juga yang dibuktikan dengan ijazah. Tapi apakah ijazah yang notabene merupakan simbol tingkat pendidikan sesorang berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini patut kita perhatikan dan amati bersama, apalagi di era globalisasi yang penuh persaingan dan tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi tersebut.
Pendidikan pada dasarnya memberikan kita pengetahuan bagaimana bersikap, bertutur kata dan mempelajari perkembangan sains yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk khalayak banyak. Tapia apa yang terjadi sekarang pendidikan menjadi ajang untuk mencari nafkah uang, uang dan uang. Berbagai cara orang lakukan untuk mendapatkan label Sarjana agar dapat diterima pada sebuah instansi. Dan tidak sedikit yang menempuh jalur yang tidak benar yang biasa kita kenal dengan sogok menyogok dan Nepotisme.
Pentingnya pendidikan pun hilang ditelan ganasnya kebuasaan manusia yang hanya merasa hidup ketika berduit. Padahal pendidikan tidak mengajarkan seperti itu, pendidikan itu penting tapi sangat jarang orang mengetahui secara spesifik pentingnya pendidikan.
Pendidikan dianggap penting karena dapat menjadi bekal untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Padahal tujuan pendidikan tidak seperti itu, pendidikan penting karena ingin memanusiakan manusia sesuai dengan teori pendidikan.
Pentingnya Pendidikan Bagi Semua Orang
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan anak.Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan,dan perkembangan adalah orang tua.Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia .Itulah pentingnya mengapa kita menjadi orang yang terdidik di lingkungan keluarga.Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain.

http://no3vie.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif?m=1207340914g
Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi kemudian menjadi seorang yang terdidik . Alangkah pentingnya pendidikan itu. Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Peranan guru sebagai pendidik merupakan peran  memberi bantuan dan dorongan ,serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak  agar anak dapat mempunyai rasa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Guru juga harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak .

Pentingnya Pendidikan
Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi anak  didik . Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian bila kita berinteraksi dengan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa  tahu mana orang yang terdidik,dan  tidak terdidik. Di zaman Era Globalisasi diharapkan generasi muda bisa mengembangkan ilmu yang didapat sehingga tidak ketinggalan dalam perkembangan zaman. Itulah pentingnya menjadi seorang yang terdidik baik di lingkungan Keluarga,Sekolah,dan Masyarakat.

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Budaya kekerasan yang mengepidemi siswa-siswa sekolah, belakangan ini, sangat memprihatinkan semua kalangan seperti tawuran hingga pembunuhan, kebiasaan nyontek,  seks bebas, juga (ada informasi) arisan berhadiah pelacur. Berbagai kasus tak pantas tersebut mengisyaratkan bahwa moral anak didik kita sedang mengalami gawat darurat. Kaum pelajar yang kelak diharapkan menjadi penentu sejarah bangsa, justru akrab dengan aksi-aksi tak sedap di mata publik.

Sementara di sisi lain, perkembangan teknologi sungguh pesat yang membuat anak-anak begitu akrab dengan permainan-permainan canggih. Namun rupanya kemajuan teknologi amat sedikit memberikan pengaruh positif bagi anak-anak. Dengan bermain video game atau games on live (dalam internet) anak-anak tumbuh menjadi manusia individual, kompetitif, dan lingkungan sosialnya terbatas.

Belum lagi tontonan televisi sering kali menebarkan “virus” yang tak kalah mengerikan melalui film-film kekerasan serta sinetron yang membodohkan. Banyak kasus kriminal yang dilakukan anak-anak dan remaja di negeri ini akibat efek negatif dari kemajuan teknologi. Bahkan, hampir semua guru mengeluhkan bahwa sekarang adalah masa-masa paling sulit untuk mendidik siswa-siswa di sekolah.

Pendidikan anak usia dini (early childhood education) atau PAUD merupakan salah satu langkah strategis demi menghindari kemungkinan permasalahan di atas terus berkelanjutan. Melalui PAUD diharapkan dapat membangun moral dan karakter peserta didik sedini mungkin.

Mulyasa tampak galau betul melihat peserta didik kita, belakangan, seolah identik dengan berbagai perilaku buruk dan nyeleneh. Guru Besar Universitas Islam Nusantara Bandung ini menawarkan pembenahan karakter anak didik melalui lembaga PAUD. Menurutnya, keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan dasar, menengah, dan tinggi sangat ditentukan oleh apa-apa yang diperoleh di PAUD.

Karena itu, misi terpenting PAUD adalah mengupayakan layanan pendidikan bagi seluruh anak di Indonesia tanpa terkecuali dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu insan yang beriman, bertakwa, disiplin, mandiri, inovatif, kreatif, memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, berorientasi masa depan, serta mempunyai kesadaran bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Untuk memenuhi hajat itulah, buku Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini ini diterbitkan. Buku yang dikembangkan dalam berbagai situasi di sejumlah daerah ini layak dijadikan pedoman oleh para pelaksana di lapangan, khususnya guru, calon guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lainnya yang peduli terhadap pendidikan anak usia dini.

Buku setebal 268 halaman ini terdiri dari sepuluh bab yang mencakup pendahuluan, mengenal dan memahami anak usia dini, manajemen pengembangan karakter anak usia dini, manajemen pengembangan kreativitas anak usia dini, perencanaan pendidikan anak usia dini, manajemen pembelajaran anak usia dini, bermain sebagai pembelajaran anak usia dini, manajemen penilaian anak usia dini, dan diakhiri dengan penutup.

Penulis dalam kata penutup berpesan, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Itu sebabnya, anak-anak usia dini yang tidak terlayani di lembaga PAUD merupakan tanggung jawab keluarga. Karena itu, dalam buku ini, orang tua juga harus menjadi sasaran manajemen, sehingga mereka dapat memberikan pengasuhan dengan baik, tepat, dan efektif.

Dengan bahasa yang mudah dicerna serta dilengkapi berbagai teori perkembangan anak dari banyak ahli, buku ini bisa digunakan sebagai acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada tingkat satuan pendidikan anak usia dini. Alhasil, seperti penganjur lainnya, buku ini perlu dimilki para pendidik yang berminat mendirikan PAUD dalam rangka mencetak generasi yang tidak cuma pandai berfikir, tetapi juga cerdas dari sisi karakter.

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI SEMUA ORANG

Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia berhak mendapatkannya dan diharapkan untuk selalu berkembang didalamnya,Pendidikan tidak akan ada habisnya,. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting.Kita dididik menjadi orang yang berguna baik bagi Negara,Nusa dan Bangsa.Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga (Pendidikan Informal), lingkungan sekolah(Pendidikan Formal),dan lingkungan masyarakat (Pendidikan Nonformal).Pendidikan Informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar,sejak seseorang lahir sampai mati.Proses pendidikan ini berlangsung seumur hidup.Sehingga peranan keluarga itu sangat penting bagi anak terutama orang tua.Orang tua mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang.Kasih sayang yang diberikan orang tua tidak ada habisnya dan terhitung nilainya.Orang tua mengajarkan kepada kita hal-hal yang baik misalnya, bagaimana kita bersikap sopan-santun terhadap orang lain,menghormati sesama,dan berbagi dengan mereka yang kekurangan.
Seorang manusia yang normal ,baik anak maupun orang dewasa senantiasa membutuhkan sesuatu “ rasa dihargai”.Rasa sayang kepada anak perlu orang tua nyatakan.Anak harus mengetahui bahwa memang kita disayangi.Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga.Dalam situasi yang demikian anak akan merasa aman,dihargai,dan disayangi.Si anak tidak akan merasa takut untuk menyatakan dirinya.Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan mental anak.Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan,dan perkembangan adalah orang tua.Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia .Itulah pentingnya mengapa kita menjadi orang yang terdidik di lingkungan
keluarga.Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain hal ini akan menimbulkan kenyamanan dan ketentraman hidup sehingga akan mempererat kerukunan hidup.
Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua atau juga disebut dengan Pendidikan formal.Pendidikan formal adalah pendidikan yang didapat seseorang dari umur 9-12 tahun,wajib bagi seseorang untuk mendapatkanya.Selain itu dapat melanjutkannya kejenjang yang lebih tinggi yaitu di SLTP dan SLTA,dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke Perguruan Tingi Menjadi seorang terdidik itu penting sekali.Alangkah pentingnya pendidikan di Indonesia.Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia memang diperlukan untuk mencapai Indonesia baru.Mengenai mutu pendidikan di Indonesia khususnya tingkat keberhasilan seorang guru untuk mendidik anak didiknya.Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.Sehingga tak luput dari peranan Guru.Peranan guru sebagai pendidik merupakan peranan yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan ,serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak didik agar anak itu menjadi patuh terhadap norma hidup,dan aturan-aturan sekolah.Guru mengajarkan kepada anak didik supaya pintar dan berwawasan luas.Anak didik yang terdidik dituntut untuk tidak merugikan orang lain ,harus menghargai,dan menghormati hak orang lain,anak dididik untuk menaati peraturan-peraturan,dan menyesuaikan diri dengan norma-norma tertentu.
Sekolah sebagai lembaga formal yang diserahi tugas untuk mendidik.Peranan Sekolah sangat besar sebagai sarana tukar pikiran diantara peserta didik.Dan juga, Guru harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak, sebab tidak jarang anak menganggap pelajaran yang diberikan oleh Guru kepadanya tidak bermanfaat .Tugas Guru yang hanya semata-mata mengajar saat ini sudah keluar dari aturan-aturan itu .Guru harus mendidik yaitu harus membina para anak didik menjadi manusia dewasa yang bertangging jawab.Hanya dengan inilah maka semua aspek kepribadian anak bisa berkembang.
Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi peserta didik .Ini juga disebut Pendidikan Nonformal.Pendidikan Nonformal adalah pendidikan di luar sekolah,yaitu pendidikan yang diperoleh seseorang secara teratur,terarah.Berhubung karena Pendidikan Nonformal lebih mudah disesuaikan dengan keadaan seseorang dan lingkungan maka pendidikan Nonformal lebih terhadap kehidupan masyarakat.Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian apabila kita berinteraksi dengan mereka di lingkungan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa mereka akan tahu mana orang yang terdidik,mana orang yang tidak Terdidik berarti kita dididik untuk bisa memahami,mengerti,serta menjadi orang yang peduli terhadap orang lain.Di zaman Era Globalisasi diharapkan generasi muda bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat Sehingga tidak terombang-ambing dalam kancah perkembangan zaman.Itulah pentingnya menjadi seorang yang terdidik baik di lingkungan Keluarga,Sekolah,dan Masyarakat.
 

Design By:
SkinCorner